Kegiatan Festival Budaya Desa yang yang dilaksanakan di Desa Serantas ini merupakan rangkaian program Pemajuan Kebudayaan Desa dari Kemdikbud Ristek dalam upaya melestarikan budaya Indonesia tang saat ini sedang mengalami penggerusan seperti menurunnya kepedulian masyarakat terhadap budaya daerah, penggerusan nilai budaya juga tercermin dari kian menurunnya pemahaman masyarakat terhadap warisan kearifan lokalnya. Dengan festival budaya desa ini diharapkan secara bertahap dapat mengembalikan kelestarian berbagai warisan budaya masyarakat agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan seperti pariwisata, sosial dan budaya itu sendiri.
Festival tersebut mengusung tema “Sah Lupak Budaya Kite”. Sedangkan waktu pelaksanaan pada 18 – 20 Nopember 2021. Berbagai cabang perlombaan dilaksanakan diantaranya Proses Pengolahana Minyak Nyuk, Nyelam Tanpa Alat Bantu, Kukur Kelapa Berpasangan, Kayuh Jungkong, Kayu Kolek dan Renang.

Kegiatan ini merupakan program kerja sama antara Desa dan Kemendikbud dalam upaya melestarikan budaya Indonesia khususnya Desa Serantas. Mengingat kepedulian masyarakat sudah mulai menurun terhadap budaya daerah, maka dari itu dilaksanakan sebuah festival untuk membangkit kepedulian masyarakat terhadap budaya tradisional.

Berbagai kesenian daerah ditampilkan pada kegiatan ini, seperti silat, kompang dan stand bazar juga ikut mengisi meriahnya festival tersebut. Terdiri atas stand bazar kuliner serta miniatur kolek jungkong ditampilkan. Kolek dan Jungkong merupakan sampan tradisional mayarakat Desa Serantas yang biasa digunakan untuk melaut. Hanya bisa ditumpangi maksimal 2 – 3 orang dewasa.

Dengan adanya kegiatan seperti ini, antusias masyarakat sangat gembira karena bisa melihat dan melakukan kembali budaya-budaya lama yang sudah jarang ditemukan. Salah satunya pengolahan minyak nyuk yang sudah sangat jarang, karena masyarakat sudah beralih menggunakan minyak goreng kemasan yang sudah tersedia di toko. Pada festival ini ditampilkan kembali bagaimana orang dahulu mengolah minyak nyuk/kelapa hingga menjadi minyal goreng.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, Hardinansyah turut hadir dalam kesempatan tersebut yang didampingi oleh Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Natuna, Hadisun. Hardinansyah yang mewakili Bupati Natuna juga menutup acara tersebut secara resmi. Dalam sambutannya Hardinansyah menyebutkan hubungan pariwisata dan kebudayaan sangat saling memerlukan, ibarat cinta dalam kehidupan, “Pariwisata tanpa Kebudayaan bagaikan Hidup Tanpa Cinta”, sebutnya. Dalam kesempatan yang sama Kadisparbud Natuna juga ucapan selamat kepada panitia atas suksesnya penyelenggaraan Festival Seni Budaya tersebut.


