Si Introvert dari Natuna

Kekah adalah salah satu primata yang hanya terdapat di Natuna. Natuna adalah salah satu daerah di Provinsi Kepulauan Riau yang terletak di paling utara Indonesia dan berbatasan langsung dengan laut China Selatan. Hewan yang bernama latin Presbytus natunae ini adalah hewan yang pemalu dan jarang muncul di daerah pemukiman masyarakat di Natuna. Kekah Natuna resmi dipisahkan dari jenis monyet kokah dan mendapat nama spesiesnya sendiri pada tahun 2001 melalui penelitian Colin Groves.

 

Hewan unyu-unyu yang satu ini biasanya memiliki beberapa warna dalam 1 tubuh yang didominasi oleh warna hitam dan putih. Kekah memiliki lingkaran di sekitar matanya yang membuatnya terlihat seperti memakai kacamata. Rambutnya berdiri tegak dengan warna dominan putih dan abu-abu dengan ujungnya yang berwarna kecoklatan. Kekah tidak memiliki tubuh yang besar, tubuhnya mungil sehingga membuat orang yang melihatnya seketika gemas. Maka tak heran jika kini populasi kekah mulai menurun. Saat ini populasi kekah di Natuna diperkirakan hanya berkisar antara 5.000-7.000 an ekor saja. Hal ini menurun jauh sejak pengamatan terakhir pada 2003 yang ditemukan puluhan ribu ekor, dikutip dari Mongabay. Saat ini Kekah Natuna sudah termasuk ke dalam status IUCN yaitu Venurable yang mengartikan bahwa hewan ini terancam punah. Kekah ini tersebar dalam beberapa tipe habitat dan ketinggian (gunung tertinggi adalah Gunung Ranai 1.035 m dpl). Habitat yang dihuni kekah adalah hutan primer pegunungan, hutan sekunder, kebun karet tua, daerah riparian, hutan mangrove, dan kebun campuran.

 

Beberapa hal yang menyebabkan kelangkaan hewan ini adalah perburuan dan penebangan liar. Perburuan liar kerap kali terjadi pada hewan ini dikarenakan harga jual yang tinggi atau hanya sebatas dijadikan peliharaan saja. Penebangan liar menyebabkan hilangnya habitat asli kekah. Kekah bisa dibilang pemakan segala, dilihat dari mereka yang mau memakan apa yang manusia makan seperti nasi, roti, buah-buahan, dan sayuran. Tapi meskipun begitu, tentu saja ada makanan yang tidak sesuai dengan pencernaan mereka yang dapat menyebabkan kematian bagi mereka. Selain itu, kekah yang sifatnya pemalu dan mudah jinak juga menjadi penyebab banyaknya orang yang mau memelihara hewan ini.

 

Setelah diketahui beberapa penyebab kelangkaan hewan ini, kesadaran masyarakat akan kelangkaan hewan ini perlu dibangun dan ditingkatkan. Diperlukan adanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi kelangkaan kekah atau paling tidak jangan ikut andil dalam pengurangan hewan ini di habitat aslinya. Memiliki hewan yang menjadi ciri khas daerah sendiri sudah menjadi hal yang luar biasa. Jangan sampai eksistensi hewan ini justru semakin tidak terlihat karena penduduk Natuna itu sendiri.

Oleh : Mauriska Rivalda.
Fakultas: Keguruan dan Ilmu Pendidikan – Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.
Share This :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *